Puisi Untuk Indonesia

Puisi untuk indonesia

INDONESIA TANAH AIRKU

Berikut ini beberapa puisi yang ku buat untuk Bangsaku, Bangsa Indonesia.



Biarkan Aku Mengubah Dunia
Joe_NcL

Aku bukan sastrawan yang pandai mengukir kata-kata dalam puisi bersajak indah.
Aku bukan sejarawan yang bisa merangkai kejadia tempo doeloe dalam bahasa sekarang.
Aku bukan arsitek yang pintar membuat gambaran gedung gedung tinggi berkelas.
Aku bukan guru yang mengajarkan nilai-nilai moral untuk murid muridku tersayang.
Aku bukanlah figur seorang ayah yang memikirkan bagaimana anak-anakku esok hari.
Aku bukan dokter yang dengan ketulusan hatinya membantu mereka yang sakit.
Aku bahkan buka imam walau itu hanya untuk diriku sendiri.

Tapi...
Aku juga bukan politisi yang lincah berbicara di depan orang banyak.
Yang bahkan tak tau untuk siapa dan dengan siapa is berbicara.
Aku juga bukan polisi yang gemar menangkap penjahat.
Yang aku tak paham siapa yang jahat dan untuk apa ia berbuat jahat.
Yang aku tau...Aku ini adalah seorang manusia.
Ya...Manusia muda dengan segudang kekurangan.
Yang aku tau...Aku ini hidup.
Bernafas, walau pada udara yang diberi oleh tuhan sang pencipta.
Bergerak, walau pada ruangan yang sempit dan kotor.
Yang aku tau, aku masih membuka mata sebelum tidurku dan berharap dapat membuka kedua kelopak ini lagi esok pagi.

Yang aku tau, aku hanyalah manusia kerdil yang dekil di hadapan dunia yang berdiri tegak seperti pendekar menghunus pedang.
Aku masih ingin hidup kawan.
Karna aku masih ingin mengubah dunia untuk mau mengerti aku.
Karena, yang aku tau adalah jiwa mudaku yang tak mau mengalah untuk prinsip-prinsip tua yang sudah usah.
Aku tak mau jadi penguasa yang harus dipatuhi.
Aku tak mau orang-orang tertunduk takut bila berjumpa denganku.
Yang aku mau mereka tau.
Aku hanyalah manusia muda, dengan segenap impian dan segunung harapan.
Karena aku tak mau menggantungkan cita-citaku pada langit yang tak lagi biru.

*****






Resahnya Desaku

Joe_NcL

Terdiam aku berfikir.
Terpana dalam angan-angan yang membahana.
Menangis aku tak sedih.
Tertawa walau tak lucu.
Aku bingung untuk apa aku pergi.
Meninggalkan desa yang hijau.

Terngiang di telinga masih menyapa.
Ucapan selamat tinggal dari seorang sahabat.
Sahabatku pergi...
Tetanggaku pergi...
Pacarku pun pergi...
lalu untuk apa aku tetap disini?
Dan aku pun pergi.

Kini terdengar desaku menangis.
Bapakku sudah teramat tua untuk pergi ke kebun atau ke sawah.
Ibuku terlalu sibuk mengurus adik adikku yang masih kecil.
Desaku yang sudah renta makin terlihat tua.
Berdosa aku meninggalkan jejak kelabu untuk mereka.

Ternak di kandang kelaparan.
Padi di sawah menangis dan melayu.
Hutanku makin lebat dan hijau.
Aku senang dari kesengsaraan.

Untuk desa yang ku cintai.
Aku ingin kembali.
Tapi aku masih tak tau harus apa aku disana.
Aku disini senang dengan segala kegemerlapan.
Meninggalkan desa yang ketika malam semakin gelap.

Kawan kawan...Ayo kita kembali.
Membangun desa desa kita dapat lebih maju.
Ayo kita buat apa yang ada disini juga ada disana.
Semua ada di pundak kita, Kaum muda.


******



Artikel Terkait